Walking Together in Petrichor Chapter II: Ketika Pulang

Love isn't Always Romantic — Nasehat terbaik yang pernah aku abaikan, adalah pulang ketika kamu lelah. Memang benar ternyata, pulang ke rumah meredakan banyak hal. 

Dua hal yang aku sukai dalam satu frame

Beberapa waktu lalu aku memilih untuk pulang lagi, dengan Charles si kuda besi putihku. 

Di perjalanan balik ke Surabaya, aku justru merasa lebih tenang daripada perjalanan pulang ke rumah. 

Ini karena Charles udah sehat dan cukup stabil untuk perjalanan panjangnya. Setelah aku memaksanya... lumayan keras saat pulang ke rumah kemarin. Aku yang mengendarainya malah membuat tubuhku sakit semua ((capeknya jadi plus plus  T^T))

Iya, aku akui gak ada benar-benar aku meluangkan waktu untuk merawatnya selama di Surabaya. Sekali lagi, pulang memang adalah waktunya memperbarui banyak hal.

Dengan Charles yang sehat, tubuhku jadi lebih menikmati angin Muson Timur bulan ini.

//hihi ^^

Anw memutar playlist lama dari jaman SMA, lumayan juga untuk jadi cheerleader selama di perjalanan. Playlist dengan judul 'HAHAHA!!!!' aku ingat betul, sengaja aku buat karena lagi sumpek dengan tugas sekolah dan patah hati ((LOL)). 

Aku pengen cheerful dan ketawa lagi lewat lagu-lagu dalam playlist ini saat itu. Dan.. wahh didengarkan lagi di masa yang berbeda, justru membawa aliran dopamin seperti listrik dengan pendar elektrik berwarna merah muda. 

Berbekal beberapa teguk dirty matcha yang aku beli dari Te.Co-Teman Coffee di Ngariboyo, dopamin yang disetrum dengan playlist ini nyata terasa. Perjalanan sore kemarin jadi punya label unik di setiap musiknya.

Te.Co-Teman Coffee

⭒ IL SOGNO - Isyana Sarasvati ft. Dead Squad
Opening yang match untuk memulai perjalanan panjang saat melewati jalanan Ringroad Madiun.
⭒ Don't Talk to Me - Mr. Head Box, Dexfa
Tempo musiknya bawa aku menikmati momen bersama anak-anak SMP-SMA baru pulang sekolah, di sepanjang jalan Nglames. Di sini aku menemukan benda kecil berwarna ungu menempel di spion kiri sebuah mobil, ada sayap yang mengepak cepat beriringan dengan angin. Golden Snitch!
Aku pikir itu, tapi ternyata miniatur burung ((mungkin kalibri, not sure)).

Mirip ini!
Source: shopee

⭒ I Don't Care - Ed Sheeran & Justin Bieber
Papasan sama tiga bapak-bapak yang lagi naik mobil penggiling padi (selepan gabah), dimana lagi berusaha nyalip mobil brio putih di lajur kiri. Dua orang—selain yang nyetir, kompak kasih hand sign saat mau mendahului ke kanan, lalu hand sign lagi untuk masuk kembali ke lajur kiri. Lucu aja, mereka kompak >_<

Kurang lebih mesinnya begini
Source: google

⭒ LEXICON - Isyana Sarasvati
Pas banget bermain ketika aku berhadapan dengan deretan truk besar dan mobil-mobil di Saradan. Rasanya beneran menghadapi Nirwana.
⭒Bunga Tidur - Tulus 
Tepat saat keluar dari kemacetan, Tulus masuk dengan sopan. Masih di jalanan hutan Saradan, dengan versi lebih lengang dan warna coklat kemerahan hutan jati di musim kemarau.
⭒ High - 5 Seconds of Summer
Mereka masuk dengan tenang mendekati rest area SPBU Saradan. Salah satu tempat kesukaanku untuk berhenti ^^


Volume on!
Rest Area SPBU Saradan Madiun

𓇢𓆸 Cassia fistula

Most of all, I love this season. Bulan-bulan menjelang akhir tahun. Karena banyak bunga yang bermekaran. Terutama bunga trengguli.

Beberapa momen kehadiranku dengan si cantik

Kami bertemu tepat dua tahun lalu, di Bulan Oktober. Pohon Trengguli ini ada di dekat rumah, tepat di jalan masuk sebelum jalan kecil lagi ke arah rumah. Seperti welcome tree ya ^^

Aku masih ingat betapa senangnya aku hari itu menulis jurnal pagi di bawah pohon trengguli yang mekar. Itu adalah jurnal catatan perjalananku juga, setelah sekian lama gak pulang dan akhirnya pulang. 

 

Aku menyukai catatan perjalanan itu. Banyak momen sederhana yang aku catat.

Ini terasa seperti; enggak semua hal kecil harus mengubah hidup kita agar layak diperhatikan.

Bahkan kalau dibaca kembali. Bagaimana bisa hanya dengan berada dalam satu bus dengan rombongan ibu-ibu yang gayanya nyentrik dan gaul banget, bisa menyenangkan untuk diingat?

Bagaimana bisa hatiku terasa begitu khidmat, saat kepalaku memutar kembali rekaman seorang pengamen puisi membacakan puisinya berjudul "Bunga-Bunga yang Tak Diharapkan" di dalam bus antarkota itu? Bahkan aku gak mengingat betul isi puisinya.

Bagaimana bisa aku masih mengingat rasa bolu kukus yang lembut dan wangi dari seorang ibu yang berjualan dengan jalan kaki berkeliling di area KBS dan dipertemukan denganku di Halte Marmoyo?

Bagaimana bisa, kejadian-kejadian biasa yang bisa ditemukan siapa saja, kapan saja, jadi catatan istimewa dalam jurnalku?

Aku tidak tahu apakah orang-orang yang kujumpai masih mengingat perjalanan tersebut. 

Aku pun tidak bisa memastikan apakah hal-hal kecil yang kusaksikan memiliki arti selain kehangatan yang kurasakan saat itu. 

Tetapi aku mengingatnya. Aku menuliskannya, seolah-olah ingin memberi ruang bagi kejadian-kejadian sederhana itu untuk tinggal sedikit lebih lama.

Dua tahun kemudian, pada bulan Oktober yang lain, aku kembali berdiri di dekat pohon trengguli yang sedang berbunga. Pertemuan itu membawaku pada ingatan tentang perjalanan pulang yang pernah kucatat dalam jurnal. 

Barangkali pohon itu tidak pernah tahu bahwa ia pernah menjadi bagian dari perjalananku. 

Ia hanya tumbuh dan berbunga, sementara aku terus berjalan dan berubah.

Dan terkadang, mungkin itu sudah cukup 

Bukan membuat sesuatu menjadi luar biasa, melainkan bersedia hadir untuk menyadari bahwa sesuatu itu ada.

𓇢𓆸 Aku Pulang dari Mereka

Rumah dan perantauan adalah dua tempo yang berbeda bagiku. 

Semenjenuhkan apapun rumah, semuanya perlu pulang ke rumah. Karena rumah adalah tempat pertama kita berangkat kemana pun. 

Aku menggunakan tubuhku di Surabaya untuk semua hal yang menuntut. Gak ada kebohongan untuk lelah fisik yang aku terima selama menggunakannya di sini. 

Namun, ketika pulang, tubuhku boleh disentuh oleh sesuatu yang tidak meminta apa-apa dariku. 

Pelukan ibu, tidak meminta proposal skripsi.
Kucing-kucingku, tidak bertanya progres Tugas Perancangan.
Pohon-pohon itu, tidak pernah nyinggung kapan aku sidang.
Kasur dan bonekaku, tidak menyuruhku untuk bergerak cepat dan produktif.

Aku pulang dari mereka yang hampir penuh mengisi ruang hidupku.

Perjalanan kemarin membuka bilik baru untuk makna yang sering aku salahpahami juga. 

Dimana pulang bukanlah kebalikan dari berjuang, namun pulang adalah bagian dari perjuangan itu sendiri. 

Karena kemarin gak sedikit yang bilang kalau
⭒ pergi = berani; 
⭒ bertahan = kuat; 
⭒ kembali = mundur;

Padahal sederhana saja, dengan kembali adalah cara seseorang mempersiapkan dirinya untuk pergi sekali lagi.

𓇢𓆸 Tiga Kali Pulang

Ada tiga kepulangan yang aku jalani; pulang ke kampung, pulang diri sendiri, dan pulang ke tulisan. 

Adalah betul, pulang ke tulisan. Blog ini.

Pulang memang gak menyelesaikan tuntas semua persoalan, namun dengan pulang ada banyak kelegaan yang mudah diikhlaskan. Menyiapkan ruang untuk bernafas dan menerima kasih yang baru.

Aku menemukan kembali dirinya, menemukan tulisan-tulisannya, dan menemukan alasan untuk berangkat lagi.

Spark itu enggak datang dari satu kejadian besar. Dia hadir dari banyak kebahagian-kebahagiaan kecil yang terkumpul hingga menjadi balon besar, dan.. saling nyambung aja gitu. 

Gambarannya seperti di sini

Aku masih mau membuat sesuatu. Aku masih mau jadi '20 gadis' itu lagi.

Dan mungkin saja, bukan spark yang bersuara, 'aku harus produktif, ambisius, atau bahagia setiap hari'. Mungkin ia hanya berbisik,

'Aku mau coba lagi'. 

Spark ini ingin aku jaga tanpa terburu-buru membakarnya habis.

𓇢𓆸 Glimpse

Lucu juga. Menyadari ternyata ada orang-orang yang pernah melewati hidup kita, tanpa benar-benar menjadi bagian dari hidup kita.

Namun bertahun-tahun kemudian, entah bagaimana, mereka meninggalkan sesuatu di dalam diri kita.

Beberapa hari terakhir, entah kenapa, aku juga menemukan semangat itu dari salah satu orang-orang tersebut.

Aku bahkan gak tau kenapa hari itu aku mengingat namanya.

Sebuah journey dari seorang pemuda—yang barangkali gak mudah baginya di musim ini. Aku melihatnya tetap memilih hadir meski berada di tengah tekanan, dan setelah segala sesuatu yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Darinya aku belajar; lelah dan menyerah adalah hal yang berbeda.

Mungkin aku tidak harus langsung menjadi hebat lagi.

Dia benar-benar menunjukkan bagaimana cara berjalan lagi. Walaupun aku hanya mengenalnya kembali melalui potongan-potongan kehidupan dia saat ini. Ada rasa bangga yang... uniknya masuk dengan sopan untuk diriku sendiri juga. 

Seperti.. 'heii kamu juga memilih untuk kembali di sini'

Ini mengingatkanku pada makna sabar yang pernah aku baca.

Ketika sabar bukan bermaksud membawa kita untuk diam dan pasrah saja atas apa yang sedang kita usahakan dan doakan. Tetapi juga kesediaan untuk terus berusaha tanpa jaminan bahwa hasilnya akan segera datang adalah bagian dari sabar itu sendiri.

Sederhananya, kita selalu punya pilihan untuk kembali walaupun lelah. 

Lalu dengan mudah aku menemukan gadis pena dan gadis pelangi melambai—bahkan meloncat kegirangan—di sini untuk dijemput lagi, lagi, dan lagi olehku ^^  

Para gadis tau, selelah apapun aku, mereka akan aku pilih kembali.

Hai, kamu yang udah baca sampai sini, terimakasih ya sudah memilih untuk memulainya lagi. //cheers!

Beberapa hal kembali hanya untuk mengingatkan kita pada kehangatan yang pernah kita rasakan. 

Beberapa lainnya datang membawa sesuatu yang belum kita sadari sedang kita butuhkan.

Pohon trengguli kemarin membawaku kembali pada sebuah perjalanan yang pernah kusimpan dalam jurnal, catatan ringkas akan momen-momen sederhana yang ternyata masih bisa kuingat setelah dua tahun berlalu.

Sementara ada nama lain yang belakangan kembali muncul. Kali ini, bukan kenangan tentang sesuatu yang pernah kualami bersamanya yang kutemukan, melainkan semangat yang justru tumbuh ketika aku melihat perjalanan hidupnya hari ini. Terimakasih.

Semua yang aku bagikan merupakan refleksi yang gak instan, dan sampai hari ini aku masih belajar dari mana pun dan apa pun. 

Senang bisa berbagi perjalanan ini ^^❀ Kamu juga bisa menemukan menu spesial chapter I lewat sini.

See u on next chapter, cheers! <3


Ehem! Sekali lagi bukan iklan ya, tapi closing-an ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Walking Together in Petrichor Chapter I: 20 Gadis

A Cup of Tea