A Cup of Tea
Fill Your Cup First — Empat bulan. Yup, empat bulan aku terlalu keras dengan diri sendiri. Banyak pelajaran, banyak belajar, dan banyak evaluasi dari diri sendiri.
Dan ternyata aku cukup mendapatkan kelegaan, tanpa pressure "aku harus bikin bahagia diri sendiri hari ini", dalam empat hari aja (?!).
Ketika aku sedih, marah, kecewa ((uncontrollable)), aku menyadarinya dan pelan-pelan mencoba untuk terima kenyataan, bahwa "aku gak selalu harus positif".
Dan hal yang masih aku coba damaikan adalah, semuanya memang butuh "waktu".
Wise man say, only fools rush in~
Mungkin hari ini aku belum mencapai titik damai yang sebenarnya, tapi setidaknya hari ini aku cukup stabil dari hari kemarin dan yup, aku baik-baik saja ^^
Besok adalah besok. Let's give all our love today—!
𓇢𓆸 Cangkir Teh Kosong
Kawan, pasti gak jarang aku maupun kamu pernah mikir, kok dia gak gitu juga ya ke aku? Padahal aku udah begini begitu ke dia.
Setelah belajar kemarin, nih. Aku "sekali lagi" diingatkan.
Cangkirku gak akan diisi dari teko orang lain kalau tekoku sendiri gak mau mengisi cangkirnya
Jadi begini, tubuh kita ini memiliki tangki cinta, yang normalnya diisi dengan kasih sayang. Ibarat acara minum teh ya, sebuah teko teh akan mengisi teh ke dalam cangkirnya. Nah, begitu pula tubuh kita, ia bisa menuangkan kasih kepada tangki cinta siapa saja, khususnya diri kita sendiri.
-ˋˏ✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Manusia = teko teh
Tangki cinta = cangkir teh
Kasih = teh
Sering banget terjadi, ketika aku sibuk mengisi cangkir-cangkir orang lain, aku sampai lupa untuk mengisi cangkir teh milikku sendiri.
Artinya; ketika aku sibuk memenuhi afeksi orang lain, aku melewatkan untuk berbuat baik pada diri sendiri. Hm.. pantes aja sering kosong rasanya walaupun udah dikelilingi banyak orang sekalipun.
Ya gimana orang lain tau ya kalau cangkirku siap diisi teh dengan berbagai varian rasa kasih mereka, kalau cangkirku kelihatan kosong melompong. Isi cangkir adalah sinyal jelas untuk menarik teko mana yang akan mengisi cangkirnya.
Iya, kalau cangkirnya memang sengaja dikosongkan untuk diisi teh lagi, tapi kalau orang lain mengira bahwa cangkir tersebut memang dibersihkan untuk disimpan lagi?
Dari sinilah trust issue para teko tumbuh.
Teko mereka gak akan menuang teh ke dalam cangkir bersih. Kecuali, ada sedikit teh di dalamnya yang memungkinkan orang lain berpikir,
"Oh, cangkir dia belum terisi penuh teh, aku bisa bantu memenuhi cangkirnya dengan teh dari tekoku"
𓇢𓆸 Kata Si Mbok'e
Waktu aku tersadarkan akan teori cangkir teh ini, aku jadi teringat tentang etika makan yang selalu digembar gembor nenekku alias mbok'e ^^
Iya, etika makan orang desa dengan kepercayaan dari mulut ke mulut. Dimana...
"Kalau mau tambah nasi atau lauk di piringmu, jangan dibersihin makanannya. Sisakan sedikit di piring baru tambah nasi atau lauk. Biar rezekinya tetap mengalir."
Begitu kata mbok'e...
Jadi, hubungannya sama cangkir teh apa?
Kalau ingin berkelimpahan isi cangkirnya (tangki cinta), berikan setidaknya sedikit isi di dalam cangkir (self-love) agar orang lain tahu bahwa kita siap menerima teh (kasih) dari teko-teko mereka.
Alert!
Bukan berarti mencintai diri sendiri semata-mata kita manfaatkan sebagai "pancingan" semata untuk dipenuhi sisa kasihnya dari eksternal ya, kawan. Sangat tidak masalah untuk kita memenuhi tangki cinta kita sendiri—bahkan hingga penuh meluber! Kita sangat layak mendapatkannya dari diri sendiri.
˚₊·—̳͟͞͞♡Teko Teh ˎˊ˗
Pertanyaanku kemarin,
"Kalau aku sudah mengisi cangkirku sendiri, tapi teko lain tetap tidak mau menuangkan sedikitpun teh dari dalamnya, apa aku masih ada yang kurang?"
Ternyata kawan, bukan cangkirmu yang kurang, tapi varian tehnya memang gak cocok untuk dikombinasikan dengan teh dari tekomu.
Setiap orang memiliki corak kasih yang berbeda (dan spesial)
Jadi, merelakan satu atau beberapa orang untuk pergi tidak akan membuat tangki cinta kita kering selamanya. Bentuk kasih kita semua selalu spesial untuk diri sendiri dan orang yang tepat.
doodle by: me 𓍯𓂃𓏧♡
𓇢𓆸 Bentuk Cangkir & Teko Teh
Kawan, bentuk cangkir dan teko teh setiap orang berbeda-beda.
Desain warnanya, coraknya, bentuk meliuk-liuknya, sampai kapasitasnya!
Kalau di kelompokin dari kapasitas sih, bisa dilihat tiga kelompok.
Yang gede, sedang, dan mungil.
Berdasarkan teori attachment style, setiap orang punya kapasitasnya untuk memberikan dan menerima cinta.
Anxious, secure, dan avoidant—adalah mereka dari setiap bentuk cangkir sekaligus teko teh itu.
Cangkir gede atau si anxious, gak akan terpenuhi cangkirnya kalau dapat teh dari teko berukuran sedang, yakni si secure. Apalagi kalau tehnya dari teko ukuran mungil, alias si avoidant.
Sebaliknya kawan, kalau cangkir avoidant diisi teh dari teko secure akan meluap-luap tehnya. Pun kalau dapat dari teko anxious, meluber kemana-mana kan ya teh di cangkir avoidant "^-^
Terlalu sedikit, kekurangan kasihTerlalu banyak, kuwalahan menerima kasih
Penting mengetahui dan memahami, cangkir teh kita ukurannya seberapa gede ya? Karena setiap cangkir punya pasangan tekonya masing-masing juga.
Ini lah pentingnya tea time. Duduk berkenalan dengan teko sendiri dan beberapa teko lainnya. Agar jelas kita melihat, terhadap teko mana saja kita bisa hadir dan dihadiri.
Jadi kawan... kalau belum penuh tangki cintamu, penuhi lagi dengan kasih dari diri sendiri dulu. Dan jika terlalu banyak yang kamu dapatkan, gak apa-apa banget untuk pelan-pelan mengolah penerimaan kasih mereka. Take your space ♡
Kawan, semua yang aku bagikan merupakan refleksi dariku. Tentu aku merefleksikan ini gak instan, dan sampai hari ini aku masih belajar darimanapun dan apapun.
You can go with it or not, but I'm glad to know if you want sharing to me about it.
Nikmati tehmu selagi hangat ^^❀
Cheers! <3

Komentar
Posting Komentar